RSS

Berlaku Profesional dalam “ketidakprofesionalan”, bisakah ?

18 Jan

Dalam dunia kerja, kata yang paling sering kita dengar dari orang – orang disekeliling kita, baik dari pimpinan, bos, rekan kerja, atau seorang OB sekalipun adalah  “profesional“.

Profesional berdasarkan  KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA berarti pro·fe·si·o·nal /profésional/ a 1 bersangkutan dng profesi; 2 memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya, contoh :  ia seorang juru masak –; 3 mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya (lawan dari kata “amatir”), contoh  pertandingan tinju.

Sedangkan menurut KAMUS BAHASA GLOBAL, professional adalah kb. 1 ahli. 2 Sport.: pemain bayaran. -ks. ahli. a p. man seorang tenaga ahli. p.army tentara bayaran. p. career jabatan ahli. -professionally kk. berdasar jabatan.

Dalam lingkungan karyawan, istilah profesional dapat diartikan berupa pandangan untuk selalu berfikir, kerja keras, bekerja sepenuh waktu, disiplin, jujur, loyalitas tinggi, dan penuh dedikasi demi untuk keberhasilan pekerjaannya (Hamid, dkk., 2003). Sehingga karyawan yang profesional dapat dilihat  dari adanya sikap perjuangan, pengabdian, kemampuan dan disiplin guna memiliki prestasi kerja dalam melaksanakan tugas dan menjadi lebih berdaya guna dan berhasil guna.

Sikap perjuangan, pengabdian, kemampuan dan disiplin karyawan tersebut tentu haruslah didukung dengan kesejahteraannya dalam hal ini faktor finansial seperti gaji, tunjangan dll, sehingga akan terwujud kepuasan kerja karyawan  (job satisfaction) yaitu berupa keadaan emosional karyawan terhadap nilai balas jasa kerja karyawan yang diberikan perusahaan atau organisasi dengan tingkat nilai balas jasa yang memang diinginkan oleh karyawan yangbersangkutan (Maryoto, 2000). kepuasan atau ketidakpuasan karyawan tergantung pada perbedaan antara apa yang diharapkan dengan yang diterima. Jika yang diterima lebih dari yang diharapkan, maka karyawan akan sangat puas. Sebaliknya, apabila yang didapat karyawan lebih rendah daripada yang diharapkan akan menyebabkan karyawan tidak puas.

Maka merujuk pada berbagai pendapat tersebut diatas dapat disimpulkan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi profesionalitas karyawan dalam bekerja adalah : (a) faktor psikologik, merupakan faktor yang berhubungan dengan kejiwaan karyawan yang meliputi minat, ketentraman dalam kerja, sikap terhadap kerja, bakat, dan keterampilan; (b) faktor sosial, merupakan faktor yang yang berhubungan dengan faktor interaksi sosial baik sesama karyawan, dengan atasannya, maupun karyawan yang berbeda jenis pekerjaannya; (c) faktor fisik, merupakan faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja dan kondisi fisik karyawan, meliputi jenis pekerjaan, pengaturan waktu kerja  dan waktu istirahat, perlengkapan kerja, keadaan ruangan, suhu penerangan, pertukaran udara, kondisi kesehatan karyawan, umur , dan sebagainya; (d) faktor finansial, merupakan faktor yang berhubungan dengan jaminan serta kesejahteraan karyawan yang meliputi sistem dan besarnya gaji, jamian sosial, macam-macam tunjangan, fasilitas yang diberikan, promosi dan sebagainya (skripsi-tesis.com)

Bagaimana apabila ada hal-hal yang tidak terpenuhi dari faktor-faktor yang mempengaruhi profesionalitas seorang karyawan untuk bekerja seperti tersebut diatas ?????

Apakah karyawan tersebut akan tetap berlaku profesional atau bagaimana ?????

Menurut hemat saya apabila ada satu hal saja yang tidak terpenuhi dari faktor-faktor pendukung tersebut diatas, maka kemungkinan terbesar adalah karyawan tersebut tidak akan bisa berlaku profesional dalam melaksanakan pekerjaannya. “seorang tidak bisa berlaku profesional dalam lingkungan yang tidak profesional”.

Sebagai contoh adakah faktor klasik yang selama ini terus menggelayuti karyawan-karyawan di Indonesia, baik dibawah pemerintahan maupun diluar itu sekalipun, dalam hal tidak terpenuhinya faktor finansial , seorang karyawan yang bekerja dengan jumlah gaji yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, tidak akan bertindak profesional sehingga menjadi kurang berdaya guna dan berhasil guna. Karyawan tersebut akan berusaha untuk mencari pekerjaan sampingan sebagai sumber pendapatan baru guna menutupi kekurangan yang dialaminya yang terkadang malah membuat pekerjaan utamanya menjadi terbengkalai, sehingga terwujudlah ketidakprofesionalan karyawan tersebut dalam menjalankan tugas utama yang harus dijalankannya.

Ada teman saya yang bilang, ” Bro… anggap aja bekerja itu sebagai Ibadah, rezeki itu sudah ada Yang ngatur….., hasrat manusia itu ngak ada cukupnya, apabila diikuti terus tak kan ada batasnya  “. Jujur,  dari hati yang paling dalam, saya pribadi sangat mendukung penyataan teman saya itu, namun selaku manusia yang imannya kadang naik kadang turun, saya berfikir lebih realistis…. apakah seseorang yang mampu dan cakap dalam pekerjaannya tidak boleh mengharapkan lebih ? apakah seseoarang salah apabila meminta bayaran yang lebih tinggi atas pekerjaannya ? kemudian siapa yang bertanggung jawab atas kesejahteraan keluarganya, sekolah anak2nya ?   bukankah dalam kotbah Jumat atau majelis zuhur sering kita dengan “beribadahlah kamu seolah-olah kamu akan mati esok hari, dan bekerjalah kamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya”.

Menyadari hal tersebut tentulah harus menjadi perhatian kita semua dalam menumbuhkembangkan keprofesionalitasan itu sendiri, dengan cara semaksimal mungkin memenuhi faktor-faktor pendukung profesionalitas itu sendiri, sehingga jangan sampai, meminjam istilah tukang becak ” bayar Rp 1000 kok mau aman” terus menghantui kita.

Mari kita dukung rencana pemerintah meningkatkan kesejahtaraan pegawai pemerintahan dan UMR untuk karyawan diluar pemerintahan.

Mari kita dukung AFTA 2010 dengan semangat profesionalisme !!!!

Wassalam

 
2 Comments

Posted by on January 18, 2010 in Pekerjaan / Working

 

Tags: , ,

2 responses to “Berlaku Profesional dalam “ketidakprofesionalan”, bisakah ?

  1. Fiki Ardiansyah

    January 26, 2010 at 8:32 am

    Busyet, berkembangnya pesat banget di ….?

     
    • ardikurniawan

      January 28, 2010 at 7:16 am

      Wah bung fiki ini bisa aja …… masih sama2 belajar kita bung ……
      ayo kita galakkan motto speak up : talk less write more !!!!!!!!!!!!!!!!!!

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: